Puisi, Logika atau Matematika..??
Saat aku bersua dengan eksponen jiwamu,
sinus kosinus hatiku bergetar,
membelah rasa diagonal-diagonal ruang hatiku,
bersentuhan dengan diagonal-diagonal bidang hatiku.
Jika aku adalah persamaan dengan akar-akar x1 dan x2,
maka kaulah persamaan dengan akar-akar 2x1 dan 2x2.
Aku ini binatang jalang,
dari himpunan yang kosong.
Kaulah integrasi belahan jiwaku,
kaulah kodomain fungsi hatiku.
Kemanakah harus kucari modulus vektor hatimu?
Dengan besaran apakah harus kunyatakan cintaku?
Harus dengan metode apakah kubuktikan cintaku?
Metode kontradiksi?
Ataukah pembuktian langsung?
Kulihat variabel dimatamu,
matamu bagaikan elipsoid,
hidungmu bagaikan asimtot hiperbola,
dan bibirmu bagaikan grafik kosinus jika kau tersenyum
padaku.
Modus ponen?
Modus tolen?
Dengan modus apakah kusingkap logika hatimu?
Beribu-ribu matriks n x n kutempuh,
harus bagaimanakah kuungkap adjointku padamu?
Kujalani tiap geometri yang takhingga banyaknya,
dan tiap barisan aritmatika yang tak terhitung,
sampai akhirnya kutemui determinan matriks hatimu
>> ini puisi apa logika matematika..??? halah dinikmati aja tp lucu dan seru sebenernya puisi ini... mungkin Einstein ungkapin hati kek gini kali y puisinya...hahahhaha..yasudlah... (^_^)v

Comments